Kamis, 11 Desember 2014


Dari Jurusan Kuliner (Part-2)
Di jurusan ini para mahasiswa sibuk mengolah kreasi masakan yang bertemakan hidangan nusantara (Indonesia) dihari pertama dan masakan Chinese dihari kedua. Untuk kreasi masakan Indonesia, mahasiswa membuat sajian dari berbagai daerah, sedangkan masakan Chinese bertemakan bumbu Szechuan dengan berbagai olahan. 


Tongseng Kambing Solo
Ø  Tongseng Kambing Solo (Kreasi: Fridson Syailendra & Thirza Angelina Asianti)
Menyebut sajian masakan Tongseng, yang terkenal adalah makanan khas daerah Solo. Tongseng adalah sejenis gulai dengan citarasa bumbu yang lebih pekat. Tongseng dibuat dengan menggunakan daging yang masih melekat pada tulang, terutama tulang iga dan tulang belakang. Pada umumnya menggunakan daging kambing, meskipun ada pula tongseng daging sapi dan kerbau. Sebagai tambahan, ke dalam kuah kental dimasukkan sayuran seperti kol. Untuk bumbu tumis yang digunakan terdiri dari campuran bawang putih, kecap, dan merica. Biasanya tongseng disajikan bersamaan dengan sate kambing.
Fridson Syailendra & Thirza Angelina Asianti



















Sate Serepeh Rembang
Ø  Sate Serepeh Rembang (Kreasi: Christine Kurnia Chandra & Stefani Regina)
Begitu banyak jenis sate yang kita kenal, dan hampir setiap daerah memiliki jenis sajian sate dengan sebutan khas nama daerahnya, misalnya sate Madura, sate Padang yang masing-masing memiliki ciri khas. Namun sudah pernah dengarkah yang namanya Sate Serepeh ? Sate khas kota Rembang (Jawa Tengah) ini agak sedikit berbeda dari sate ayam pada umumnya. Yang membedakan adalah citarasa bumbunya dibuat dengan menggunakan santan, gula merah dan bumbu kacang. Bumbu sate ini warnanya merah kecokelatan dengan rasa gurih dan pedas yang unik. Untuk penyajiannya, paling enak dinikmati bersama nasi dan sayur sambal goreng labu.
Christine Kurnia Chandra & Stefani Regina


















Dendeng Batako Padang
Ø  Dendeng Batako Padang (Kreasi: Nurul Mutmainnah & Muhammad Ibnu Shobirin)
Ciri khas masakan Padang satu ini adalah citarasa bumbunya yang pedas dan empuknya daging sapi begitu digigit. Agar daging tetap terjaga keempukannya, pemakaian daun salam cukup penting untuk menghilangkan bau amis yang melekat dari daging sapi, sementara garam untuk memberikan rasa gurih. Berikutnya, daging direndam bersama bumbu yang sudah dicampur menjadi satu setelah matang lalu digoreng.
Nah, untuk penyajiannya jika biasanya menggunakan sambal balado dengan warna cabe merahnya yang menantang kepedasaannya, di ujian ini Nurul dan Ibnu menyuguhkan dendeng Batako dengan sambal ijo yang sensasinya tak kalah rasa pedasnya.

Nurul Mutmainnah & Muhammad Ibnu Shobirin


















Elsa Anggraini & Andreas Prabu Maheswara


Ø  Pecel & Bacem Jawa Timur (Kreasi: Elsa Anggraini & Andreas Prabu Maheswara)
Berbicara tentang sajian pecel, makanan ini tak pernah surut akan penggemarnya dan makin berkembang sebagai warisan kuliner nusantara yang musti dilestarikan. Pecel adalah makanan yang menggunakan bumbu sambal kacang sebagai bahan utamanya yang dicampur dengan aneka jenis sayuran.
Dalam penyajian, biasanya pecel yang terdiri dari sayur yang direbus (kacang panjang, tauge panjang, dll) dan lauk dihidangkan dengan alas daun pisang atau pincuk. Tapi tidak bagi dua mahasiswa ini, Elsa dan Prabu menata nasi pecel sedemikian rupa agar makanan ini makin enak dipandang. Penyajian secara berlapis-lapis dengan siraman bumbu kacang diatasnya. Alangkah bertambah nikmat, sajian pecel ini disertai dengan lauk tempe dan ayam bacem yang rasanya manis gurih.  


Nasi Pecel




Tempe & Ayam Bacem













Sweet & Spicy Chicken Kebab

Ø  Sweet & Spicy Chicken Kebab (Kreasi: Juwita Endah Wijayawati & Eben Ezer Sinulingga)
Mungkin kita sering mendengar makanan bernama kebab. Sebutan kebab ini hidangan daging yang masak dengan cara dipanggang dan ditusuk. Masakan ini bisa disajikan dengan beragam saus, untuk paduannya bisa berasa pedas manis.
Juwita Endah Wijayawati & Eben Ezer Sinulingga



















Szechuan Shrimp
Ø  Szechuan Shrimp (Kreasi: Muhammad Khalid & Zaphenath P. Elsa)
Hidangan Szechuan ini terkenal rasanya pedas mengigit karena didominasi oleh cabe merah Szehuan dan merica ternyata banyak penyukanya. Dimasak dengan udang, citarasa bumbu Szechuan makin terasa mantap. Yang perlu diperhatikan juga adalah penyajiannya dan jangan lupa taburan wijen sangrai untuk menambah aroma.
Muhammad Khalid & Zaphenath P. Elsa
















Prawn With Szechuan Style Sauce


Ø  Prawn With Szechuan Style Sauce (Kreasi: Diah Ratna Mutiarani & Kevin Junior)
Sajian oriental dengan citarasa bumbu Szechuan yang dikenal memiliki rasa pedas ini sangat cocok untuk lidah orang Asia. Bumbu ini cocok dimasak dengan beragam bahan makanan. Dalam masakan ini, perpaduan gurihnya udang besar dan perasan jeruk lemon sangat menambah kesegaran citarasanya. *Upi

Diah Ratna Mutiarani & Kevin Junior)






















 Info lebih lanjut hubungi atau datang di:
Ø  ‘Tristar Institute’ Serpong – Tangerang
Kompleks Ruko BSD sektor 7 Blok RL 31-32-33 Serpong – Tangerang
Telp 021-53151389  Fax 021-53155652

03.53 Tristar Culinary Institute

Dari Jurusan Kuliner (Part-2)
Di jurusan ini para mahasiswa sibuk mengolah kreasi masakan yang bertemakan hidangan nusantara (Indonesia) dihari pertama dan masakan Chinese dihari kedua. Untuk kreasi masakan Indonesia, mahasiswa membuat sajian dari berbagai daerah, sedangkan masakan Chinese bertemakan bumbu Szechuan dengan berbagai olahan. 


Tongseng Kambing Solo
Ø  Tongseng Kambing Solo (Kreasi: Fridson Syailendra & Thirza Angelina Asianti)
Menyebut sajian masakan Tongseng, yang terkenal adalah makanan khas daerah Solo. Tongseng adalah sejenis gulai dengan citarasa bumbu yang lebih pekat. Tongseng dibuat dengan menggunakan daging yang masih melekat pada tulang, terutama tulang iga dan tulang belakang. Pada umumnya menggunakan daging kambing, meskipun ada pula tongseng daging sapi dan kerbau. Sebagai tambahan, ke dalam kuah kental dimasukkan sayuran seperti kol. Untuk bumbu tumis yang digunakan terdiri dari campuran bawang putih, kecap, dan merica. Biasanya tongseng disajikan bersamaan dengan sate kambing.
Fridson Syailendra & Thirza Angelina Asianti



















Sate Serepeh Rembang
Ø  Sate Serepeh Rembang (Kreasi: Christine Kurnia Chandra & Stefani Regina)
Begitu banyak jenis sate yang kita kenal, dan hampir setiap daerah memiliki jenis sajian sate dengan sebutan khas nama daerahnya, misalnya sate Madura, sate Padang yang masing-masing memiliki ciri khas. Namun sudah pernah dengarkah yang namanya Sate Serepeh ? Sate khas kota Rembang (Jawa Tengah) ini agak sedikit berbeda dari sate ayam pada umumnya. Yang membedakan adalah citarasa bumbunya dibuat dengan menggunakan santan, gula merah dan bumbu kacang. Bumbu sate ini warnanya merah kecokelatan dengan rasa gurih dan pedas yang unik. Untuk penyajiannya, paling enak dinikmati bersama nasi dan sayur sambal goreng labu.
Christine Kurnia Chandra & Stefani Regina


















Dendeng Batako Padang
Ø  Dendeng Batako Padang (Kreasi: Nurul Mutmainnah & Muhammad Ibnu Shobirin)
Ciri khas masakan Padang satu ini adalah citarasa bumbunya yang pedas dan empuknya daging sapi begitu digigit. Agar daging tetap terjaga keempukannya, pemakaian daun salam cukup penting untuk menghilangkan bau amis yang melekat dari daging sapi, sementara garam untuk memberikan rasa gurih. Berikutnya, daging direndam bersama bumbu yang sudah dicampur menjadi satu setelah matang lalu digoreng.
Nah, untuk penyajiannya jika biasanya menggunakan sambal balado dengan warna cabe merahnya yang menantang kepedasaannya, di ujian ini Nurul dan Ibnu menyuguhkan dendeng Batako dengan sambal ijo yang sensasinya tak kalah rasa pedasnya.

Nurul Mutmainnah & Muhammad Ibnu Shobirin


















Elsa Anggraini & Andreas Prabu Maheswara


Ø  Pecel & Bacem Jawa Timur (Kreasi: Elsa Anggraini & Andreas Prabu Maheswara)
Berbicara tentang sajian pecel, makanan ini tak pernah surut akan penggemarnya dan makin berkembang sebagai warisan kuliner nusantara yang musti dilestarikan. Pecel adalah makanan yang menggunakan bumbu sambal kacang sebagai bahan utamanya yang dicampur dengan aneka jenis sayuran.
Dalam penyajian, biasanya pecel yang terdiri dari sayur yang direbus (kacang panjang, tauge panjang, dll) dan lauk dihidangkan dengan alas daun pisang atau pincuk. Tapi tidak bagi dua mahasiswa ini, Elsa dan Prabu menata nasi pecel sedemikian rupa agar makanan ini makin enak dipandang. Penyajian secara berlapis-lapis dengan siraman bumbu kacang diatasnya. Alangkah bertambah nikmat, sajian pecel ini disertai dengan lauk tempe dan ayam bacem yang rasanya manis gurih.  


Nasi Pecel




Tempe & Ayam Bacem













Sweet & Spicy Chicken Kebab

Ø  Sweet & Spicy Chicken Kebab (Kreasi: Juwita Endah Wijayawati & Eben Ezer Sinulingga)
Mungkin kita sering mendengar makanan bernama kebab. Sebutan kebab ini hidangan daging yang masak dengan cara dipanggang dan ditusuk. Masakan ini bisa disajikan dengan beragam saus, untuk paduannya bisa berasa pedas manis.
Juwita Endah Wijayawati & Eben Ezer Sinulingga



















Szechuan Shrimp
Ø  Szechuan Shrimp (Kreasi: Muhammad Khalid & Zaphenath P. Elsa)
Hidangan Szechuan ini terkenal rasanya pedas mengigit karena didominasi oleh cabe merah Szehuan dan merica ternyata banyak penyukanya. Dimasak dengan udang, citarasa bumbu Szechuan makin terasa mantap. Yang perlu diperhatikan juga adalah penyajiannya dan jangan lupa taburan wijen sangrai untuk menambah aroma.
Muhammad Khalid & Zaphenath P. Elsa
















Prawn With Szechuan Style Sauce


Ø  Prawn With Szechuan Style Sauce (Kreasi: Diah Ratna Mutiarani & Kevin Junior)
Sajian oriental dengan citarasa bumbu Szechuan yang dikenal memiliki rasa pedas ini sangat cocok untuk lidah orang Asia. Bumbu ini cocok dimasak dengan beragam bahan makanan. Dalam masakan ini, perpaduan gurihnya udang besar dan perasan jeruk lemon sangat menambah kesegaran citarasanya. *Upi

Diah Ratna Mutiarani & Kevin Junior)






















 Info lebih lanjut hubungi atau datang di:
Ø  ‘Tristar Institute’ Serpong – Tangerang
Kompleks Ruko BSD sektor 7 Blok RL 31-32-33 Serpong – Tangerang
Telp 021-53151389  Fax 021-53155652

Kamis, 03 Juli 2014

Untuk Pemilu Damai,
Akpar Majapahit Buat Kue Capres

HIRUK-PIKUK kegiatan kampanye calon presiden (capres) selama sebulan penuh, yang dimulai sejak 9 Juni hingga 9 Juli 2014 mendatang, telah menginspirasi Akademi Pariwisata (Akpar) Majapahit untuk membuat “kue capres”.



Rencana membuat kue capres ini merupakan ide orisinil dari Akpar Majapahit, yang ingin menampilkan produk kuliner unik, menarik dan berbeda dari biasanya, dengan memotret fonemona yang saat ini menjadi isu hangat di tengah masyarakat, yakni hajatan lima tahunan berupa pemilihan presiden (pilpres) 2014.



Pembuatan kue capres ini dimotori chef Simon Marga (Dosen Pastry) Akpar Majapahit dengan dibantu asisten chef Jiurike Alvionita (Jiu) dan Febe Ayu Sutejo (Veve). Mereka bertiga kompak menyiapkan spoon cake (bahan dasar pembuatan kue itu) sejak Kamis (12/6). Sedangkan bahan lain berupa butter cream, plastic icing dan print wajah Capres 1 (Prabowo) dan Capres 2 (Jokowi) sudah tersedia di Dapur Pastry Akpar Majapahit pada hari H, Jumat (13/6).




Pekerjaan membuat spoon cake yang bahannya terdiri dari empat butir telur ditambah 120 gram gula pasir, 15 gram cake emulsion, 80 gram tepung kunci biru, 15 gram tepung maizena, 40 gram dan vanilla pasta disiapkan pada H-1, Kamis (12/6).


Setelah spoon cakenya sudah siap, pada hari H-nya,chef Simon Marga dengan dibantu dua asistennya, bahu membahu membuat  kue capres. Cara pembuatannya, bahan dasar ditaruh di loyang ukuran 40 x 60 cm.

Selanjutnya spoon cake diratakan dan diberi pewarna merah putih sebagai background yang mencerminkan warna bendera kebangsaan Indonesia. Setelah itu disiapkan butter cream yang berfungsi untuk lem, sebelum dilakukan proses menghias kue dengan plastic icing.

Proses menghias print  wajah capres 1 (Prabowo) dan capres 2 (Jokowi) --dalam satu loyang-- dengan plastic icing perlu keahlian tersendiri agar tampilan kue capres yang dibikin timbul tersebut bisa semirip mungkin dengan wajah aslinya. Pekerjaan membuat kue capres ini sejak persiapan hingga selesai menghias print wajah capres butuh waktu sekitar tiga jam.


”Selain itu, kedua tokoh yang akan bertarung untuk menjadi RI-1 periode 2014-2019 itu sengaja kami sandingkan dalam satu wadah. Ini kami maksudkan bahwa siapapun yang jadi presidennya nanti, Indonesia tetap damai,” kata Jiurike, sambil menunjukkan hasil kreasinya di dapur pastry Akpar Majapahit, Sabtu (14/6).


Di mata Ketua Yayasan Eka Prasetya Mandirim Ir Juwono Saroso, ide cerdas staf pengajar Akpar Majapahit dan asistennya yang terinspirasi dari hajatan kampanye pilpres 2014 ini langsung mendapat apresiasi dari pihak yayasan sebagai pengelola Akpar Majapahit.

Semua bahan, sarana dan prasarana di kampus disiapkan untuk merealisasikan pembuatan kue capres yang dinilainya sebagai original idea dari civitas akademika Akpar Majapahit khususnyan dosen pastry.

”Sebagai insan pariwisata, tuntutan harus selalu inovatif dengan membuat sesuatu yang unik dan menarik seperti membuat kue capres ini merupakan keniscayaan. Tentu saja yayasan akan mendukung sepenuhnya setiap lahir gagasan orisinil dari kalangan dosen maupun mahasiswa,” terang Juwono.

Bagi Akpar Majapahit, tujuan pembuatan kue capres ini bahwa kalangan akademik ingin menyukseskan pemilu damai. Jadi siapapun presidennya nanti, seluruh elemen masyarakat harus mendukungnya karena presiden yang terpilih itu adalah pilihan rakyat.

Dengan mengapresiasikan ide brilian ini berupa kue capres, pihaknya ingin Akpar Majapahit semakin dikenal luas oleh masyarakat, bahwa lembaga pendidikan tinggi ini mampu membuat apapun, sekalipun hanya produk kuliner. ”Itu artinya bahwa produk kuliner tidak hanya bisa dimakan (dikonsumsi), melainkan juga bisa dinikmati bersama karena produk kuliner itu lahir dari gagasan irisinil Akpar Majapahit,” pungkasnya.(ahn)
12.20 Tristar Culinary Institute
Untuk Pemilu Damai,
Akpar Majapahit Buat Kue Capres

HIRUK-PIKUK kegiatan kampanye calon presiden (capres) selama sebulan penuh, yang dimulai sejak 9 Juni hingga 9 Juli 2014 mendatang, telah menginspirasi Akademi Pariwisata (Akpar) Majapahit untuk membuat “kue capres”.



Rencana membuat kue capres ini merupakan ide orisinil dari Akpar Majapahit, yang ingin menampilkan produk kuliner unik, menarik dan berbeda dari biasanya, dengan memotret fonemona yang saat ini menjadi isu hangat di tengah masyarakat, yakni hajatan lima tahunan berupa pemilihan presiden (pilpres) 2014.



Pembuatan kue capres ini dimotori chef Simon Marga (Dosen Pastry) Akpar Majapahit dengan dibantu asisten chef Jiurike Alvionita (Jiu) dan Febe Ayu Sutejo (Veve). Mereka bertiga kompak menyiapkan spoon cake (bahan dasar pembuatan kue itu) sejak Kamis (12/6). Sedangkan bahan lain berupa butter cream, plastic icing dan print wajah Capres 1 (Prabowo) dan Capres 2 (Jokowi) sudah tersedia di Dapur Pastry Akpar Majapahit pada hari H, Jumat (13/6).




Pekerjaan membuat spoon cake yang bahannya terdiri dari empat butir telur ditambah 120 gram gula pasir, 15 gram cake emulsion, 80 gram tepung kunci biru, 15 gram tepung maizena, 40 gram dan vanilla pasta disiapkan pada H-1, Kamis (12/6).


Setelah spoon cakenya sudah siap, pada hari H-nya,chef Simon Marga dengan dibantu dua asistennya, bahu membahu membuat  kue capres. Cara pembuatannya, bahan dasar ditaruh di loyang ukuran 40 x 60 cm.

Selanjutnya spoon cake diratakan dan diberi pewarna merah putih sebagai background yang mencerminkan warna bendera kebangsaan Indonesia. Setelah itu disiapkan butter cream yang berfungsi untuk lem, sebelum dilakukan proses menghias kue dengan plastic icing.

Proses menghias print  wajah capres 1 (Prabowo) dan capres 2 (Jokowi) --dalam satu loyang-- dengan plastic icing perlu keahlian tersendiri agar tampilan kue capres yang dibikin timbul tersebut bisa semirip mungkin dengan wajah aslinya. Pekerjaan membuat kue capres ini sejak persiapan hingga selesai menghias print wajah capres butuh waktu sekitar tiga jam.


”Selain itu, kedua tokoh yang akan bertarung untuk menjadi RI-1 periode 2014-2019 itu sengaja kami sandingkan dalam satu wadah. Ini kami maksudkan bahwa siapapun yang jadi presidennya nanti, Indonesia tetap damai,” kata Jiurike, sambil menunjukkan hasil kreasinya di dapur pastry Akpar Majapahit, Sabtu (14/6).


Di mata Ketua Yayasan Eka Prasetya Mandirim Ir Juwono Saroso, ide cerdas staf pengajar Akpar Majapahit dan asistennya yang terinspirasi dari hajatan kampanye pilpres 2014 ini langsung mendapat apresiasi dari pihak yayasan sebagai pengelola Akpar Majapahit.

Semua bahan, sarana dan prasarana di kampus disiapkan untuk merealisasikan pembuatan kue capres yang dinilainya sebagai original idea dari civitas akademika Akpar Majapahit khususnyan dosen pastry.

”Sebagai insan pariwisata, tuntutan harus selalu inovatif dengan membuat sesuatu yang unik dan menarik seperti membuat kue capres ini merupakan keniscayaan. Tentu saja yayasan akan mendukung sepenuhnya setiap lahir gagasan orisinil dari kalangan dosen maupun mahasiswa,” terang Juwono.

Bagi Akpar Majapahit, tujuan pembuatan kue capres ini bahwa kalangan akademik ingin menyukseskan pemilu damai. Jadi siapapun presidennya nanti, seluruh elemen masyarakat harus mendukungnya karena presiden yang terpilih itu adalah pilihan rakyat.

Dengan mengapresiasikan ide brilian ini berupa kue capres, pihaknya ingin Akpar Majapahit semakin dikenal luas oleh masyarakat, bahwa lembaga pendidikan tinggi ini mampu membuat apapun, sekalipun hanya produk kuliner. ”Itu artinya bahwa produk kuliner tidak hanya bisa dimakan (dikonsumsi), melainkan juga bisa dinikmati bersama karena produk kuliner itu lahir dari gagasan irisinil Akpar Majapahit,” pungkasnya.(ahn)

Jumat, 09 Mei 2014


Akpar Majapahit Menuju Akreditasi  B

Untuk Prodi Perhotelan dan Pariwisata

UPAYA Yayasan Eka Prasetya Mandiri –pengelola Akpar Majapahit meningkatkan kualitas belajar mengajar mahasiswa sesuai amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi terus ditumbuhkembangkan, salah satunya adalah mengincar Akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Ditjen Dikti Kemendiknas.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi swasta, akreditasi yang dipersyaratkan Ditjen Dikti merupakan keniscayaan yang harus dipenuhi (dari aspek legalitas) oleh pihak pengelolanya, demi menjaga nama baik dan kredibilitas lembaga tersebut di mata publik. Dua program studi DIII Akpar Majapahit yang diakredikasi adalah Perhotelan dan Pariwisata (Usaha Perjalanan Wisata).

Pada tanggal 26-28 Maret 2014, tim assessor BAN PT yang terdiri dari Dr Johanes Sulistyadi (Assessor BAN-PT) dan Dr Santi Palupi (Assessor BAN-PT) melakukan visitasi ke Prodi Pariwisata Akpar Majapahit, sedangkan tim satunya lain yakni Drs Maman Lukman (Assessor BAN-PT) dan Dr Diena Mutiara (Assessor BAN-PT) melaksanakan visitasi ke Prodi Perhotelan Akpar Majapahit 27-29 Maret 2014.

Kehadiran tim assessor BAN-PT ke kampus Akpar Majapahit disambut hangat segenap civitas akademika Akpar Majapahit, mulai Pembina Yayasan Eka Prasetya Mandiri Ir Juwono Saroso, Ketua Yayasan Evie Muliasari S.Si Apt, Direktur Akpar Majapahit Dr Sumani, SE, Msi, Ak, Asdir I Hedy W. Saleh SH, MBA, Msi.Par, Asdir II Otje Herman Wibowo Amd.Par, SE, Asdir III Mafthucha Dipl.Hot, SE, M.Par, para dosen dan mahasiswa.

Ditanya kesan dan pesannya seusai visitasi di Akpar Majapahit, Dr Diena Mutiara, assessor BAN-PT, yang juga UPH Jakarta, memberi apresiasi positif terhadap civitas akademika Akpar Majapahit, terutama semangat owner-nya yang luar biasa dalam meng-internasionalkan kampus yang dikelola nya.


“Jujur saya katakan bahwa kampus ini small is beauty. Kecil tapi indah. Untuk saat ini predikat itu layak disematkan kepada kampus yang berlokasi di Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya. Boleh dibilang unique,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya banyak memberikan masukan dan saran yang konstruktif kepada pihak yayasan dan menawarkan diri mengadakan studi banding di kampus UPH Jakarta, dimana dirinya mengajar di sana. Bahkan dia siap membina Akpar Majapahit menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Kaprodi Perhotelan Akpar Majapahit R. Paulus Sutrisno, SST.Par yang mendampingi Dr Diena Mutiara menambahkan, tim assessor tertarik melihat laboratorium  untuk praktik perhotelan di lantai 4 saat tour the campus. Fasilitasnya lengkap, ada kamar standar hotel bintang 4, lab housekeeping, front office, counter bar, toilet dan lain-lain.

Tim assessor BAN-PT ini juga menyempatkan diri melihat perpustakaan yang nyaman, demikian juga kondisi lab pastry dan culinary dinilainya cukup memadai. Visitasi tim assessor BAN-PT itu bertepatan dengan ujian massal mahasiswa –ujian mistery box (mahasiswa tidak tahu bahan apa yang dimasak).

Bahan mentah itu disediakan dosen dan baru diberitahukan kepada mahasiswa lima menit sebelum ujian. Untuk ini mahasiswa harus bisa memaksimalkan bahan baku yang disediakan sebelum diolah menjadi masakan yang siap saji. “Kalau saya melihat antusiasme anak-anak berkreasi saat mengikuti ujian massal, sungguh luar biasa. Amazing....,” puji Dr Diena Mutiara sambil tersenyum kepada mahasiswa.

Tidak hanya Dr Diena yang menawarkan studi banding, Dr Johanes Sulistyadi, Drs Maman Lukman dan Dr Santi Palupi pun menawarkan hal senada. Assessor BAN-PT yang juga dosen di STP Sahid Jakarta ini mengajak Ir Juwono Saroso melakukan studi banding ke STP Sahid dan jaringan Hotel Sahid Group, meskipun Hotel Sahid dengan STP Sahid terpisah secara manajemen.

Drs Maman Lukman menawarkan ratusan buku koleksi perpustakaan STP Bandung mulai hospitality, jurnal ilmiah, seminar dan sebagainya untuk digandakan demi kemajuan Akpar Majapahit. Hal ini disampaikan kepada Asdir III Akpar Majapahit Mafthucha Dipl.Hot, SE, Mpar., yang sudah dikenal lama sebagai dosen dan assessor BAN-PT.

Di mata Maman Lukman, keberadaan Akpar Majapahit dengan industry pariwisata sudah link & match karena kurikulum pendidikan yang disajikan kepada mahasiswa sudah ditunjang dengan fasilitas praktik di setiap perkuliahan dinilainya cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan SDM yang profesional dalam industry pariwisata dan perhotelan.

Pembina Yayasan Eka Prasetya Mandiri Ir Juwono Saroso mengatakan, visitasi tim assessor BAN-PT ke kampus Akpar Majapahit merupakan sejarah tersendiri bagi kampus yang masih dibilang ank bawang. Namun pihaknya terus termotivasi untuk menjadikan kampus ini lebih baik dan tumbuh kembang menjadi yang terbaik di Jatim bahkan di Indonesia.

“Kehadiran tim assessor BAN-PT kali pertama untuk mengakreditasi dua program studi (prodi) Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit, kami harapkan jadi stimulan karena sejak semula kami mengincar akreditasi B untuk kedua prodi tersebut,” kata Ir Juwono Saroso di dampingi Hendrik Adrianus, Kahumas Akpar Majapahit di kantornya, kemarin.

Nah, sebagai masukan konstruktif bagi penyempurnaan lembaga pendidikan ini semakin memicu dan memacu pihak pengelola Akpar Majapahit terus berbenah, mulai penyempurnaan metode (silabus) pendidikan, kompetensi dosen, aspek manajemen dalam pengelolaan perguruan tinggi (PT).

“Penambahan fasilitas belajar mengajar dan penunjangnya yang mengacu pada Standar Pendidikan Manajemen Internal (SPMI) dari Ditjen Dikti atau memakai standar BAN-PT hingga masalah sertifikasi dosen (serdos) demi memenuhi amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, juga tidak luput untuk kami sempurnakan,” pungkasnya.

Sekedar informasi, sampai sekarang ini, Akpar Majapahit memiliki 40 dosen tetap, puluhan dosen tidak tetap dan 400-an mahasiswa. Kampus  A beralamatkan di Jl Raya Jemusari No. 244, sedangkan Kampus B berlokasi di Jl Kaliwaron No. 58-60 Surabaya. (ahn)
13.34 Tristar Culinary Institute

Akpar Majapahit Menuju Akreditasi  B

Untuk Prodi Perhotelan dan Pariwisata

UPAYA Yayasan Eka Prasetya Mandiri –pengelola Akpar Majapahit meningkatkan kualitas belajar mengajar mahasiswa sesuai amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi terus ditumbuhkembangkan, salah satunya adalah mengincar Akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Ditjen Dikti Kemendiknas.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi swasta, akreditasi yang dipersyaratkan Ditjen Dikti merupakan keniscayaan yang harus dipenuhi (dari aspek legalitas) oleh pihak pengelolanya, demi menjaga nama baik dan kredibilitas lembaga tersebut di mata publik. Dua program studi DIII Akpar Majapahit yang diakredikasi adalah Perhotelan dan Pariwisata (Usaha Perjalanan Wisata).

Pada tanggal 26-28 Maret 2014, tim assessor BAN PT yang terdiri dari Dr Johanes Sulistyadi (Assessor BAN-PT) dan Dr Santi Palupi (Assessor BAN-PT) melakukan visitasi ke Prodi Pariwisata Akpar Majapahit, sedangkan tim satunya lain yakni Drs Maman Lukman (Assessor BAN-PT) dan Dr Diena Mutiara (Assessor BAN-PT) melaksanakan visitasi ke Prodi Perhotelan Akpar Majapahit 27-29 Maret 2014.

Kehadiran tim assessor BAN-PT ke kampus Akpar Majapahit disambut hangat segenap civitas akademika Akpar Majapahit, mulai Pembina Yayasan Eka Prasetya Mandiri Ir Juwono Saroso, Ketua Yayasan Evie Muliasari S.Si Apt, Direktur Akpar Majapahit Dr Sumani, SE, Msi, Ak, Asdir I Hedy W. Saleh SH, MBA, Msi.Par, Asdir II Otje Herman Wibowo Amd.Par, SE, Asdir III Mafthucha Dipl.Hot, SE, M.Par, para dosen dan mahasiswa.

Ditanya kesan dan pesannya seusai visitasi di Akpar Majapahit, Dr Diena Mutiara, assessor BAN-PT, yang juga UPH Jakarta, memberi apresiasi positif terhadap civitas akademika Akpar Majapahit, terutama semangat owner-nya yang luar biasa dalam meng-internasionalkan kampus yang dikelola nya.


“Jujur saya katakan bahwa kampus ini small is beauty. Kecil tapi indah. Untuk saat ini predikat itu layak disematkan kepada kampus yang berlokasi di Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya. Boleh dibilang unique,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya banyak memberikan masukan dan saran yang konstruktif kepada pihak yayasan dan menawarkan diri mengadakan studi banding di kampus UPH Jakarta, dimana dirinya mengajar di sana. Bahkan dia siap membina Akpar Majapahit menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Kaprodi Perhotelan Akpar Majapahit R. Paulus Sutrisno, SST.Par yang mendampingi Dr Diena Mutiara menambahkan, tim assessor tertarik melihat laboratorium  untuk praktik perhotelan di lantai 4 saat tour the campus. Fasilitasnya lengkap, ada kamar standar hotel bintang 4, lab housekeeping, front office, counter bar, toilet dan lain-lain.

Tim assessor BAN-PT ini juga menyempatkan diri melihat perpustakaan yang nyaman, demikian juga kondisi lab pastry dan culinary dinilainya cukup memadai. Visitasi tim assessor BAN-PT itu bertepatan dengan ujian massal mahasiswa –ujian mistery box (mahasiswa tidak tahu bahan apa yang dimasak).

Bahan mentah itu disediakan dosen dan baru diberitahukan kepada mahasiswa lima menit sebelum ujian. Untuk ini mahasiswa harus bisa memaksimalkan bahan baku yang disediakan sebelum diolah menjadi masakan yang siap saji. “Kalau saya melihat antusiasme anak-anak berkreasi saat mengikuti ujian massal, sungguh luar biasa. Amazing....,” puji Dr Diena Mutiara sambil tersenyum kepada mahasiswa.

Tidak hanya Dr Diena yang menawarkan studi banding, Dr Johanes Sulistyadi, Drs Maman Lukman dan Dr Santi Palupi pun menawarkan hal senada. Assessor BAN-PT yang juga dosen di STP Sahid Jakarta ini mengajak Ir Juwono Saroso melakukan studi banding ke STP Sahid dan jaringan Hotel Sahid Group, meskipun Hotel Sahid dengan STP Sahid terpisah secara manajemen.

Drs Maman Lukman menawarkan ratusan buku koleksi perpustakaan STP Bandung mulai hospitality, jurnal ilmiah, seminar dan sebagainya untuk digandakan demi kemajuan Akpar Majapahit. Hal ini disampaikan kepada Asdir III Akpar Majapahit Mafthucha Dipl.Hot, SE, Mpar., yang sudah dikenal lama sebagai dosen dan assessor BAN-PT.

Di mata Maman Lukman, keberadaan Akpar Majapahit dengan industry pariwisata sudah link & match karena kurikulum pendidikan yang disajikan kepada mahasiswa sudah ditunjang dengan fasilitas praktik di setiap perkuliahan dinilainya cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan SDM yang profesional dalam industry pariwisata dan perhotelan.

Pembina Yayasan Eka Prasetya Mandiri Ir Juwono Saroso mengatakan, visitasi tim assessor BAN-PT ke kampus Akpar Majapahit merupakan sejarah tersendiri bagi kampus yang masih dibilang ank bawang. Namun pihaknya terus termotivasi untuk menjadikan kampus ini lebih baik dan tumbuh kembang menjadi yang terbaik di Jatim bahkan di Indonesia.

“Kehadiran tim assessor BAN-PT kali pertama untuk mengakreditasi dua program studi (prodi) Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit, kami harapkan jadi stimulan karena sejak semula kami mengincar akreditasi B untuk kedua prodi tersebut,” kata Ir Juwono Saroso di dampingi Hendrik Adrianus, Kahumas Akpar Majapahit di kantornya, kemarin.

Nah, sebagai masukan konstruktif bagi penyempurnaan lembaga pendidikan ini semakin memicu dan memacu pihak pengelola Akpar Majapahit terus berbenah, mulai penyempurnaan metode (silabus) pendidikan, kompetensi dosen, aspek manajemen dalam pengelolaan perguruan tinggi (PT).

“Penambahan fasilitas belajar mengajar dan penunjangnya yang mengacu pada Standar Pendidikan Manajemen Internal (SPMI) dari Ditjen Dikti atau memakai standar BAN-PT hingga masalah sertifikasi dosen (serdos) demi memenuhi amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, juga tidak luput untuk kami sempurnakan,” pungkasnya.

Sekedar informasi, sampai sekarang ini, Akpar Majapahit memiliki 40 dosen tetap, puluhan dosen tidak tetap dan 400-an mahasiswa. Kampus  A beralamatkan di Jl Raya Jemusari No. 244, sedangkan Kampus B berlokasi di Jl Kaliwaron No. 58-60 Surabaya. (ahn)